Ebes Peni Suprapto : Ukuran Sukses Wali Kota, Pertumbuhan Ekonomi yang Signifikan

0
Ebes Peni Suprapto saat wawancara bersama suara3news di Rumah Makan Kertanegara Kota Malang

SUARA3NEWS, Kota Malang – “Menjadi calon pemimpin di Kota Malang hendaknya harus memahami karakter dan budaya arek-arek Malang”, itulah sedikit kalimat yang disampaikan oleh Drs. Peni Suprapto, M.A.P mantan Wali kota Malang periode 2003 -2013.

Pada suatu sore suara3news berkesempatan berdiskusi bersama dengan tokoh Malang Peni Suprapto mantan Wali kota.

Beberapa topik mengenai pemerintahan dan arah pembangunan serta memahami perubahan dan pemimpin masa depan Kota Malang menjadi perbincangan yang menghangatkan suasana, Selasa (8/8/2023).

Ebes Inep panggilan akrab mantan Wali kota Malang ini mengatakan bahwa untuk mencari pemimpin, rakyat harus cerdas. Dirinya mengungkapkan bahwa pemimpin yang dipilih harus mempunyai wawasan nasional dan daerah. “Dalam memilih pemimpin ada yang harus dicermati? Apakah kita memilih partai, memilih teman, atau memilih pemimpin yang akan merubah nasib kita menjadi lebih baik lagi,” tegasnya.

Sebagai seorang pemimpin yang telah berpengalaman, Peni Suprapto mengungkapkan bahwa ukuran pembangunan masyarakat disebut berhasil bukan hanya dilihat dari gedung-gedung bertingkat. Namun ukuran yang sebenarnya kesuksesan seorang Wali kota adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi rakyat naik secara signifikan.

“Kalau pertumbuhan ekonomi rakyat tidak naik, maka pemimpin tersebut bisa dibilang tidak berhasil. Saya sebagai kepala daerah pernah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7,79% yang tertinggi di seluruh Indonesia,” ungkap Peni Suprapto.

Ditambahkan olehnya bahwa pemimpin yang berkualitas juga harus memahami apa itu ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Ideologi dirasa penting oleh mantan Wali kota Malang ini sebagai filter atas pengaruh-pengaruh budaya maupun infiltrasi asing ke dalam masyarakat.

Dari kacamata Peni Suprapto yang tidak kalah penting adalah masalah sosial. Dirinya menilai Malang dengan slogan salam satu jiwa seharusnya mampu menjadi magnet kerukunan antar warga masyarakat.

“Salam satu jiwa mestinya dipakai untuk membangun komunikasi sosial tanpa batas dari berbagai golongan tanpa adanya perbedaan. Bagaimana bisa membangun kota jika masyarakat di bawah selalu ribut,” ujarnya.

Dari sisi kebudayaan Peni Suprapto mengkritik bahwa program Malang Halal sebenarnya tidak perlu dilakukan. Karena menurutnya pembangunan ekonomi dengan konsep Malang Halal tidak akan berhasil karena program tersebut tidak menyentuh kepentingan masyarakat.

“Memang dalam sebuah kepemimpinan ada istilah yang sering digunakan yaitu lain koki lain juga masakannya, tinggal bagaimana rakyat menikmati hasil masakan dari seorang pemimpin, apakah memuaskan atau tidak?,” katanya.

Dalam pandangan Peni Suprapto Kota Malang sebagai kota pendidikan seharusnya mampu memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi.

“Setiap tahun ada 400 ribu mahasiswa baru yang datang ke Kota Malang, perputaran uang yang beredar setiap bulan di kota ini sebenarnya sangat tinggi dari sektor pendidikan. Inilah yang menumbuhkan ekonomi riil,” ucap pria yang kini berdomisili di Kabupaten Malang.

Diskusi yang hangat ditutup dengan sebuah pandangan pembangunan infrastruktur. Ebes Peni Suprapto menyampaikan bahwa sebuah kota bisa nyaman sebagai tempat tinggal jika pemerintah menggunakan pendekatan sustainable development.

Dengan pembangunan yang berkelanjutan dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya, maka tidak akan terputus konsep besar dalam menata suatu kota.

“Mungkin tidak banyak orang tahu, bahwa tujuan saya membangun kantor terpadu di wilayah buring selain untuk pemerataan pembangunan dan pelayanan publik yang mendekati warga pinggiran, kantor terpadu tersebut dibangun supaya mengurangi kemacetan di tengah kota. Lalu kenapa pelayanan publik yang berada di kantor terpadu saat ini dipusatkan lagi di tengah kota,” pungkasnya.

Previous articleGoogle Kuatirkan Perpres Publisher Right Mengancam Masa Depan Media di Indonesia
Next articleRelawan Ganjar Pranowo di Jatim Tancap Gas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here